profile

[url=http://www.facebook.com/sisy.solit?ref=tn_tnmn] [/url]

Minggu, 17 Februari 2013

Sepotong Senja Untuk Pacarku

Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina. Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala. Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu. Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu. Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana. Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos. Alina sayang, Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku. “Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!” Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas. “Catat nomernya! Catat nomernya!” Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa. Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan. “Senja! Senja! Cuma seribu tiga!” Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi. Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan. “Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…” Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah. Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina. Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka. Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku. “Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman. Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku. “Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.” Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina. Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama. Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina. “semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?” Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja…. Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih. Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon. Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh… Alina kekasihku, pacarku, wanitaku. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos. Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu. Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya. Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. –Cerpen Pililihan Kompas 1993

Penari Hujan

”Aku akan selalu ingat kamu saat hujan.” ”Kenapa?” ”Karena kita sering menari bersama hujan.” ”Hanya itu alasanmu?” ”Bukan, karena kamu perempuan hujan.” ”Maksudmu?” ”Hujan dan kamu adalah cintaku…” Lelaki itu datang dari kabut di satu sore yang mendung. Di antara detik suara gerimis dan leleh keringat yang bercampur dengan sengau napas yang mengeluarkan asap seperti naga yang kelelahan. Lelaki itu menyimpan mata yang aneh. Mata yang selalu murung meski urat-urat di sekitar mulutnya tertarik ke atas untuk mengukir sepenggal tawa. Mata itu membutuhkan kemampuan ekstra jenius untuk mengurai satu per satu sel-sel makna di dalamnya. Aku melihat Siwa sedang tidak menari di mata itu. Mata yang marah. Mata yang diam. Mata itu membutuhkan istirahat dari pertanyaan. ”Aku belum pernah ke tempat ini.” ”Aku juga. Eh tapi orangtua kamu tinggal di kota itu kan?” Percakapan biasa dari sebuah pertemuan tampak biasa. Kami tidak begitu mengenal satu sama lain pada awalnya. Tapi aku merasa lelaki itu telah ada dalam tubuhku beratus-ratus tahun yang lalu. Aku tahu sekali pertemuan itu akan terjadi dan entah kenapa aku percaya sejak awal bahwa dia selalu mencariku selama ini. Mata itu bicara. Mata itu merindukan kedatanganku. Mata itu tertawa memandangku. ”Kamu seperti orang patah hati deh…” ” Memang. Kamu juga seperti orang marah…” ”Memang. Jadi kita sama- sama orang cacat neh?” ”Cacat?” ” Iya, cacat emosi.” Hujan sering turun dalam di gelap atau di pagi dengan kabut menghebat. Kami bicara banyak dalam kata, tapi juga kami bicara banyak antara mata. Kami sering tertawa melihat hujan yang menari seperti tarian Siwa. Kami melihat hujan yang riang. Hujan yang tertawa. Aku sangat suka hujan karena lelaki itu selalu tertawa saat hujan. Kami bermain air seperti kanak-kanak yang melihat dewi rembulan. Tangan kami menengadah ke langit sambil tubuh kami berputar mengikuti irama hujan. Kami menyebutnya tarian hujan dan aku memanggil lelaki itu si Penari Hujan. Aku dan Penari Hujan pun bercinta di bawah hujan. ” Hujan itu indah.” ” Kupu-kupu juga indah, kamu tahu kan aku suka kupu-kupu?” ” Hujan itu ajaib.” ” Cinta juga ajaib.” ” Hujan itu tarian semesta.” ” Kamu hadiah semesta.” ” Aku mencintaimu…” Cinta itu seperti hujan. Sering meruah tiba-tiba. Menyisakan warna-warna di langit bernama pelangi. Penari Hujan sering berdiri di depan pintu menatap hujan. Bibirnya terkatup rapat. Mata kecilnya berkejap-kejap menghalau air yang mendesak keluar. Aneh, mengapa tidak ditumpahkan saja air di matanya sehingga berbaur bersama air hujan yang dicintainya itu? Mata itu ketakutan akan kesendirian. Sunyi yang mengentak dan merongga ke sudut hitam hatinya. Sunyi itu dia sebut hantu. Ah, bukankan hantu itu hanya ada di kepala Sayangku? Penari Hujan takut hantu bernama Sunyi. ”Perempuan, kamu mencintaiku?” ” Mengapa kamu tanya itu? Kita sering menari bersama hujan kan?” ”Kamu mencintaiku?” ” Seperti katamu, hujan dan kamu adalah cinta.” ”Cinta… Sejatikah cintamu?” ”Pertanyaan yang aneh. Cinta sejati, cinta murni, Cinta palsu, Cinta bohong-bohongan? Apa bedanya?” Selalu pertanyaan tentang cinta tidak pernah selesai. Semua selalu mencari dan bertanya tentang cinta sejati. Adakah cinta sejati itu? Ah, Penari Hujan cinta bagiku selalu sejati dan pertama. Karena setiap cinta yang kubuat selalu satu-satunya dan pertama kali kuberikan ke lelaki yang kujatuhcintai. Satu cinta dan cinta lainnya tidak pernah sama. Mungkin mirip-mirip tapi tidak ada satu pun yang sama persis. Cinta yang kupunya bagiku selalu adi busana, cinta yang dibuat tangan oleh perancangnya. Bukan cinta pakaian jadi buatan pabrik konveksi. Massal dan seragam. Cinta itu selalu sejati karena tidak pernah dirancang kapan jatuhnya dan kapan hilangnya. Aku selalu merenda cintaku dengan hati dan jiwaku untuk semua lelaki yang beruntung membuatku mau merenda cinta itu. Cinta untukku selalu menyanyikan keindahan, jika ada tangis dan air mata itu hanya para ego yang terluka. Egoku selalu terluka karena sekarang aku selalu menangis. ”Kamu mau tinggal bersamaku selamanya di sini?” ” …” ”Mengapa kamu diam?” ”Aku ingin mengejar asal pelangi itu. Mau ikut?” ”Kamu tidak mencintaiku? Mengapa ingin pergi?” ”Mengejar pelangi dan cintaku tidak ada hubungannya.” ”Tapi kamu akan meninggalkanku.” ”Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu sudah ada dalam hatiku, dalam tubuhku.” ”Kamu jahat. Kamu akan pergi meninggalkanku.” ”Maksudmu kamu mau tubuhku selalu ada bersamamu? Mana yang kamu inginkan dariku: tubuh ini bersamamu atau hatiku bersamamu?” ”Huh, kamu lebih mencintai negeri pelangimu daripada aku” Lelaki itu tidak pernah tahu, aku hidup dari pecahan-pecahan puzzle mimpiku. Udara setiap pagi yang kuhirup mengembuskan satu puzzle baru yang harus kutata agar menjadi mimpi utuh. Mungkin mimpi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan tapi dengan membuat keping-keping puzzle paling tidak aku punya semangat menyusunnya. Kamu tidak pernah mengerti di setiap keping puzzle itu ada kamu, Sayangku. Tidakkah itu cukup bagimu? Kita sudah ada sejak beratus tahun lalu dan apa yang kita punya itu tidak akan pernah hilang dan mati. Selalu ada di tempatnya. Selalu ada di sana. ”Datanglah lebaran nanti, aku ingin mengenalkanmu ke keluargaku. Aku ingin menikahimu.” ”Haruskah?” ”Bukankah kamu mencintaiku. Kamu bilang kamu mau jadi istriku. Gimana sih?” ”Aku kan sudah bilang aku ingin ke negeri pelangi dulu. Bukankah kita sudah bicarakan hal ini?” ”Aku benar-benar ingin kamu datang Lebaran nanti. Aku tunggu kamu. Ibuku sayang kamu” ”Aku juga sayang ibumu” … … … Lelaki itu terus menunggu. Hingga dia tahu bahwa perempuan hujannya telah pergi ke Negeri Pelangi. Saat itu juga dia berhenti menari dan membenci hujan. Setiap hujan tiba dia selalu memaki langit yang memberi warna abu-abu yang pernah sangat dia suka. Air hujan membuat kaki dan tangannya membeku. Tak lagi mampu menarikan tarian semesta seperti ketika Tamino bertemu Pamina, sepasang kekasih di Magic Flute, opera terakhir Mozart. Derap kaki menari di atas bumi telah disimpannya, dengan satu warna merah di dada. … Waktu menyimpan misterinya sendiri. Waktu seperti pendulum, yang selalu kembali ke tempat di mana kita mengayunkannya. Kita pun akan selalu bertemu di tempat di mana kita akan mulai … Dear Penari Hujan kekasihku… Saat kamu membaca suratku, aku sudah tidak lagi di Negeri Pelangi. Ternyata Negeri Cahaya lebih memikatku. Negeri di mana waktu seolah berhenti berdetak. Waktu yang seperti bunyi jantung kita sendiri. Bunyi itu merenda mimpi, harapan dan juga cinta. Sungguh, kamu mungkin tidak akan pernah mengerti aku dan mungkin tidak akan pernah mengerti selama hidupmu tentang semua mimpiku. Tetapi kekasihku kamu harus mengerti bahwa dalam setiap langkahku dan napasku selalu ada tarian-tarian hujanmu. Tarian yang berdentam dengan irama terindah. Bunyi itu begitu merdu, para pemetik harpa di surga pun akan iri mendengarnya. Karena tarian hujanmu adalah gerak semesta yang berasal dari jiwamu. Kamu masih sering menari ketika hujan tiba bukan sayangku? Tarian hujan itu bukan untukku atau bukan untuk orang-orang yang kamu cintai. Tetapi tarian itu untuk dirimu sendiri. Kamu hidup dari tarian itu. Gerakkan kaki dan tanganmu lagi sayangku. Menarilah. Ikuti bunyi terindah dari hatimu. Kelak, pada satu hujan di satu senja, di mana langit begitu jingga dengan semburat keputihan, aku berjanji akan selalu datang. Jangan pernah bertanya lagi tentang cintaku. Karena cintaku itu seperti angin. Tidak ada warna dan bentuknya tetapi kamu selalu akan bisa merasakannya. Jaga dirimu selalu baik-baik sayangku. Hujan selalu musik terindah dalam tarian-tarian kita. Ada pelukan dan ciumanku dari tempat tersepi di dunia…di hatiku… Selalu mencintaimu dengan hidupku Perempuan Hujanmu … Surat itu diterimanya sehari setelah kelahiran anak pertamanya. Bayi perempuan yang cantik. Perempuan kecil itu lahir di sebuah hujan yang aneh di akhir bulan Juli. Hujan seperti tanpa henti. Hujan itu seperti pukulan-pukulan tabla dan sitar para pemusik Siwa ketika dia mulai menggerakkan tangan dan kakinya di atas semesta. Lelaki sejenak ragu. Tetapi tangan dan kakinya seperti tanpa tuan terus bergerak. Tanpa peduli teriakan istrinya dan tangis bayinya, lelaki itu berlari keluar. Ditengadahkannya kedua tangannya ke langit abu-abu dengan sedikit semburat putih. Air hujan sangat deras mengguyur bumi, bau tanah kering yang meranggas begitu kental ketika air itu menyentuhnya. Petir pun berkilat seperti suara perkusi para pemusik samba seolah tertawa riang menyambut kembalinya lelaki penyuka hujan itu. Bumi pun bersorak ketika kaki lelaki itu menjejakkan kembali di atas tubuhnya dan meliukkan kembali tarian-tarian semestanya. … … Sebuah sore yang indah. …. Perempuan Hujanku Terima kasih untuk suratmu. Kamu benar, tarian hujan itu adalah hidupku. Aku begitu mencintai tarian itu lebih dari apa pun di dunia ini. Ketika anak perempuanku lahir, aku melihat matanya seperti matamu. Mata yang mampu membuatku kembali menari. Aku begitu bahagia bisa menari lagi. Hujan ternyata adalah diriku dan tarian adalah napasku. Perempuanku, aku akan selalu mengingat setiap langit memerah saat menjelang gelap. Senja selalu seperti bisikanmu di saat aku begitu lelah. Aku akan selalu tahu kamu mencintaiku setiap angin menerpa wajahku. Kamu benar, cinta itu selalu ada di sana, bersama waktu yang melahirkannya. Perempuanku, kamu harus janji selalu bahagia ya? Sungguh, aku berjanji akan selalu menari lagi. Mencintaimu dalam diamku Lelaki Hujanmu Kebahagiaan itu ternyata seperti sebuah ciuman. Akan begitu menyenangkan ketika kita membaginya. Hujan dan lelaki itu adalah bahagia.

Rabu, 20 Juni 2012

Mensyukuri titipan Tuhan

Anak merupakan anugerah tuhan yang patut di syukuri, dimana mereka hadir di tengah keluarga untuk mendapatkan kasih sayang dan cinta yang tulus dari kedua orang tua. namun sangat di sayangkan sekali ketika peran orang tidak mampu bertindak sebagai orang tua yang selalu hadir dalam didikan cinta kasih dengan kepandaian dalam melihat kondisi anak. kata salah satu tokoh agama Ali Bin Abu Thalib bahwa pendidkan yang harus di berikan kepada anak-anak kita, tidak bisa di samakan dengan bagaimana ketika kita memperoleh pendidikan dari orang tua kita. Karena kita waktu dulu adalah generasi saat ini. sedangkan anak kita saat ini adalah generasi yang akan datang.
Terkadang kita sebagai orang tua terlalu egois dalam mendidik anak dengan menanamkan kekerasan dan terlalu menekan si anak, padahal didikan seperti itu akan membuat mereka merasa tidak mendapatkan kepercayaan dari orang tua sehingga besar kemungkinan mereka akan berprilaku seperti kucing yang mencuri makan, ketika si tuan rumah tidak melihat maka kucing itu akan mengambil kesempatan untuk memakan ikan yang bukan untuknya.begitupun pada sang anak akan berani memanfaatkan keadaan ketika tidak di bawah pengawasan. oleh karenanya kita harus pandai dalam memandang dan mengamati sang buah hati dengan cermat. memperhatikan dan mendengarkan anak akan lebih memudahkan kita dalam mengetahui karakter dan pendidikan apa yang seharusnya di berikan. jadilah sahabat bagi mereka jangan menjadi sosok yang menegangkan. biarkan mereka tumbuh alami namun tetap dalam perhatian orang tua.
saya punya banyak sahabat kecil dimana mereka selalu datang setiap kali saya pulang dari kantor, entah mengapa mereka sangat senang ketika bersamaku. meskipun saya lelah butuh istirahat tetapi saya tidak pernah merasa tidak mood ketika mereka hadir dengan tingkah mereka yang lucu dan aneh. saya selalu bersedia bermain bercanda bersama mereka. suatu ketika mereka menuliskan curahan perasaan pada selembar kertas yang bunyinya seperti ini, '' Kami bangga pada Kakak yang cantik dan pintar. Dia baik tidak pernah memarahi kami. dia pernah memberi kami hadiah cokelat. kata yang di garis bawahi melukiskan bahwa seorang anak bangga dengan kasih sayang dan kehangatan.sehingga apabila kita memeberinya sesuatu maka hal itu akan sangat berarti dan berharga bagi mereka.meskipun hanya sebuah cokelat yang mungkin tidak berharga bagi anak-anak yang lain yang selalu menerima hadiah mahal dari orang tua yang selalu menjanjikan sang anak apabila berprestasi. Jika kita ingin di dengarkan oleh sang anak maka bersedialah untuk selalu menjadi pendengar yang baik bagi mereka.

Jumat, 01 Juni 2012

Lesbian


Oiyah.. teman-teman kali ini saya akan sharing informasi tentang ciri-ciri orang lesbian,namun hal ini berbeda karna saya akan paparkan dalam bentuk cerita yang merupakan pengalaman  saya sendiri.
Secuilpun saya tidak menyangka dirinya ternyata seperti itu..memang selama saya berteman denganya, saya menemukan sesuatu yang membuat diriku merasa tidak nyaman.  sikapnya selalu aneh, mencurigakan . Selalu saya mengamati prilakunya, mempelajari dirinnya . benar-benar saya melihat sosok yang sangat beda. Awalnya Saya suka berteman dengannya karena dirinya lucu dan baik tapi baiknya karna dia punya mau dan maunya sangat tidaklah pantas. Saya membiarkan sikapnya mengalir dan saya berusaha flexible menerima prilakunya  yang sangat membuat saya illfeel ,karna saya pikir saya harus menyelidiki dengan pelan-pelan sampai saya mendapat  fakta yang  memperkuat alasan memvonis bahwa dirinya benar-benar  tidak normal. Yang paling buat iilfeel adalah ketika saya tidur  dia sangat suka memeluk saya dari belakang  dan kadang mencium belakangku.saya slalu berkata padanya “jangan terlalu rapat di bantalku, karna aku panas  susah tidur” saya merasa sangat terbebani.hampir setiap hari dia ingin menginap di rumah saya. Pernah suatu ketika saya nongkrong bersama teman cowok saya,  secara kebetulan dia datang dan  melihat saya. Mukanya beraura muram dan merasa tidak senang. Dia berkata padaku “ kenapa kamu duduk diluar bersama laki laki itu? Skali lagi kamu saya liat saya tidak mau datang lagi.” Saya kaget  dalam hati saya berkata “yasudah tidak usah datang. sering kali dia berkata bahwa dia sayang banget sama aku,dirinya selalu ingin berdua tidak suka berkumpul.sampai suatu saat di rumahku ada acara. Teman kakak laki-lakiku banyak yang datang. Kebetulan aku ikut nimbrung bersama mereka tapi yang terjadi Dia malah tambah menjadi-jadi menampakkan kecemburuannya. Saya mengajaknya keluar kamar untuk bergabung tapi alasannya dia lagi pusing sebaliknya dia  mengajak aku untuk keluar rumah, it’s ok saya menurutinya karna saya ingin tau sebenarnya dia kenapa,tapi saya  punya akal untuk umengajak kakak saya dan salah satu temannya.
Melihat  warna wajah yang abu-abu, emosi yang tidak jelas, membuat  saya malas dengannya tapi saya berusha untuk bertahan, 10 menit setelah tiba di cafĂ©,wajahnya masih tidak berubah padahal tempatnya asyik . saya semakin curiga, apa mungkin  karna saya dekat dengan teman kakakku ?
Karna dia tidak mampu bendung emosi akhirnya dia mengajak untuk pulang, katanya dia tidak suka tempat ini, padahal kami belum sempat menegug minuman. Benar-benar menjenkelkan. Tiba di rumah saya tidak ngomong padanya, tidurpun saya tidak ingin bersamanya , perasaan illfeel saya semakin meningkat. Ketika  tidur saya yang sangat pulas tiba-tiba dari belakang dia merangkul saya dengan sangat erat. Saya semakin emosi bergegas terbangun menghindarinya.
Beberapa hari kemudian hanphone saya di nonaktifkan. Saya tidak ingin dia menggangguku, karna saya yakin dia akan datang lagi untuk menginap. Ternyata benar malam itu dia datang hanya tidak ada yang membukakan dia pintu. Dia semakin sibuk menghubungi tanteku. Menanyakan tentang saya, yang  berubah menjauhinya.karna saya sudah menceritakan  pada tanteku bahwa dia tidak normal, maka , saya dan tante bersekongkol  untuk mengatakan bahwa saya diriku  akan menikah. Dia semakin sibuk dan pusing. Sangkin tidak mampu menahan dia berani menenyakan langsung pada ibuku,dan untungya ibu saya menjaawab “ iya dia akan saya nikahkan."  Smsnya  juga menyerbuku yang berbunyi sperti ini “dik saya sudah tau masalahnya kenapa kamu berubah, kenapa kamu tidak berterus terang padaku, saya sagat sakit,patah semangat. pikirkan baik-baik, saya selalu mengingatmu, tolong teruskan saya dik”  perasaan saya seakan mau mual membacanya.saya menggaris bawahi kata
saya sangat sakit, patah semangat, teruskan saya.” Lalu saya membalasnya
“sebenarnya kamu ada apa denganku? Kamu menganggap saya apa selama ini? jawab jujur..!!”
Tapi dia tidak membalasnya, disitu saya benar-benar yakin bahwa dia ini betul lesbian. Kemudian saya mengiriminya lagi pesan seperti ini, “ walupun anda tidak bilang saya sudah bisa tau, selama ini saya mempelajari sikap anda memang aneh padaku,tidak normal (LESBIAN), kamu selalu membuat saya jijik.maaf anda perempuan sadarkan dirimu, jika kondisimu terus-terusan seperti itu maka orang lain akan takut bergaul denganmu.”
Dia lalu mebalasnya dengan tetap sopan berbicara
“astaga dik ternyata itu masalahnya, saya tidak sepertu itu dik”
Saya membalasnya
“saya bukan oran bodoh, baru sekarang saya mengungkap ini karna fakta saya sudah mampu membuktikan yang sebenarnya, saya tidak mudah memvonis sesuatu tanpa ada dasar untuk bicara tapi inilah yang saya dapat dari dirimu,
Prilakumu cirri-ciiri lesbian:  1. Perhatian berlebihan, 2. Kalau tidur suka memeluk dan mencium, 3. Selalu rindu berat di saat kita selalu bertemu, 3.kamu pernah bilang sangat sayang padaku, 4. Lalu mengapa kamu yang sakit hati dan patah semangat jika aku ingin menikah? Serta kamu meminta untuk di teruskan.saya bingung anda ingin di teruskan apa?” kira-kira begitulah bunyi smsku padanya
“ok, aku tidak tau harus bilang apa, saya kecewa, anggap saja kamu tidak mengenal saya dik, dan anggap tidak terjadi apa-apa” statemantnya menandakan bahwa memang dirinya seperti itu,dan takut  masalah ini di ketahui oleh orang lain.
Preettt...!!!

Rabu, 09 Mei 2012

Kekuatan Pikiran


Mungkin kita selalu larut dengan apa yang kita rasakan dalam setiap waktu yang terhitung dari detik lalu menit dan kemudian jam…satu kali 24 jam kadang kita tidak mampu melihat dari segala bentuk prilaku yang menghasilkan sebuah perasaan, entah itu perasaan senang,jengkel, tidak nyaman,dll. Tapi pernahkah kita menyadari bahwa segala bentuk perbuatan yang kita  kerjakan setiap hari merupakan wujud dari apa yang  terkuat di pikiran kita ….????
                Yach,,,,dalam penganalisaan saya bahwa ternyata pikiran itu sangat berpengaruh besar ..memiliki efek yang luar biasa.  pikiranlah yang membawa  kita kuat, semangat  ataupun lemah. Itulah sebabnya  mengapa biasanya dalam setiap proses yang kita kerjakan ada yang  mampu menyelesaikan dan ada pula yang tidak..sebab kemampuan kita untuk mempertankan pikiran yang kita hadapi saat itu teralihkan  ke pikiran yang lain sehingga daya untuk mengerjakan  juga akan berkurang.. for example->  barusan saya konsentrasi menuangkan pikiran  di blog saya,namun tiba-tiba handphone  saya berbunyi,,nah..pikiran saya mulai beralih  dan berlanjut  untuk mengangkatnya setelah trima telfon  saya kembali menulis tapi ternyata pikiran saya masih berada pada handphone..sehingga  saya sulit lagi untuk menuangkan apa yang ingin saya tulis..
Nahh..kalian semua pasti pernah merasakan hal yang sama,,,makanya  kita butuh kefokusan  dan mengatur pikiran kita dengan baik.                    

Selasa, 08 Mei 2012

Semangat Datang Dari Kekuatan Hati

Semangat datang dari kekuatan hati yang mencintai sesuatu. Reni yang Sehari-hari tugasnya hanyalah melayani masyarakat yang tidak lain adalah costumernya. Sebagai seorang costumer service,Reni selalu berusah menabur aura positif dengan memberi sapaan dan senyuman kepada mereka yang di layaninya namun apakah anda tau bahwa pekerjaan itu tidah mudah dilakukan oleh semua orang..bagaimana berhubungan dengan orang lain,memberikan service yang terbaik pada mereka dengan keikhlasan. Reni sebagai manuasia biasa yang tidak pernah lepas dari emosional selalu membangun kepribadian yang layak untuk di persembahkan pada mereka.,dengan berusah mencintai pekerjaannya dan selalu menyadari bahwa sebuah apresiasi apabila dia mampu membuat orang merasa nyaman dengannya. .pada suatu ketika dia sempat terkurung dalam lembah yang melumpuhkan semangatnya  di mana kesehatannya kurang feet. Dengan kondisi seperti itu dia tetap memancarkan wajah riangnya. Salah satu tips yang dia lakukan adalah dengan menghadirkan dalam pikirannya gambaran yang membuatnya terasa bahagia dan membuang sugesti negative yang bisa melemahkan dirinya. waktu itu dia memunculkan dalam pikirannya tentang make good relation to anyone (membuat relasi yang baik pada siapapun) dengan tidak melihat jenis manusia yang di hadapinya melainkan dengan melihat good relationship dalam berhubungan. Bukan kesenangan atas dirinya atau dengan terselesaikannya pekerjaannya. Tapi menurut dia makna yang paling berharga adalah ketika dia mampu menolong dan menjadikan orang lain bahagia dari apa yang telah dia berikan.

Rabu, 02 Mei 2012

JANGAN LUPA TULIS NAMA


Riska akhirnya mendapat pekerjaan sebagai wartawan di sebuah koran surat kabar di kampung halamannya. Pada saat dia untuk pertama kalli menerima tugas peliputan berita, dia dengan rendah hati minta petujuk dari seorang wartawan kawakan yang paling berepengalaman di kantor sura kabar itu.
Wartawan kawakan tersebut berkata kepadanya dengan serius, “ ingatlah, selalu jangan lupa mencantumkan nama, sekali lagi nama! Pendeknya, segala sesuatu yang menyangkut berita harus dibubuhi nama yang tepat, karena iya berkaitan dengan masalah kelengkapan dan kepercayaan berita itu.”
            Beberapa jam kemudian Riska telah menyerahkan sebuah naskah beritanya yang pertama, isinya kira-kira begini, “Kemarin malam, badai petir dahsyat paling sedikit memporak-porandak dan mendatangkan dampak buruk terhadap terhadap tiga perkebunan di kota ini: perkebunan milik Mr. Hols telah terbakar, beberapa pohon besa di perkebunan Mr Alan tumbang di terjang angina kencang. Kerugian yang dialami perkebunan Mr Monde paling besar, sedikitnya tiga ekor sapi perah miliknya telah tewas di sambar petir, Nama ketiga sapi itu adalah Bezi, Eisy,Beza..”(*

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More